Harapkan Anak Masuk Sekolah Negeri

Harapkan Anak Masuk Sekolah Negeri

Harapkan Anak Masuk Sekolah Negeri

Gelisah. Mungkin kalimat itu lebih tepat disematkan pada wajah-wajah polos warga miskin Kota Bandung. Berharap anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi terpapar dengan jelas. Pikiran jernihnya bergeming pada sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Peristiwa yang terekam Bandung Ekspres itu terjadi kemarin (7/5) dalam tatap muka antara warga miskin

pemegang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dengan Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung Achmad Nugraha di RW 05, Kelurahan Cikawao, Kecamatan Lengkong.

’’Hak-hak pendidikan warga miskin tidak boleh hilang”, ucapan itu terlontar dari mulut politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, saat menjawab pertanyaan warga yang meminta jaminan anaknya tetap bisa sekolah.

Sosialisasi PPDB ini, menurutnya tidak mendahului Peraturan Walikota PPDB yang hingga kini belum kelar. Legislator khawatir muncul persepsi salah. Pasalnya, harapan masyarakat begitu besar terhadap regulasi itu. ’’Kita hanya memberi perlindungan. Kalau Perwal bertentangan dengan kepentingan warga miskin, aturan itu sebenarnya melawan undang-undang,” tegas Amet-sapaan akrabnya.

Ketua RW 05 Kelurahan Cikawao Otih Sumiati mengungkap, kegiatan mengumpulkan warga miskin

Kota Bandung pemegang SKTM lama dan baru, sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

Masyarakat miskin haus akan informasi terkait pembiayaan sekolah gratis. Mereka datang dari seluruh kecamatan di Bandung. Dengan ongkos pas-pasan warga miskin itu datang rombongan atau ada juga yang menggunakan sepeda motor pinjaman. Tetapi hasil pertemuan selalu positif. ’’Setiap tahun, 90 persen dari yang hadir, bisa masuk ke sekolah negeri,” tutur Otih.

Neni, 40, warga Kecamatan Regol, menyatakan, rata-rata yang datang sebenarnya tidak

mempermasalahkan bisa sekolah di negeri atau swasta. Yang terpenting bisa sekolah. ’’Sakola negeri-swasta kango abdi sami wae . pokona mah tiasa nyakolaken budak (sekolah negeri atau swasta sama saja, yang penting bisa sekolahin anak),” ucap dia.

Senada dengan Neni, Susilawati, 42, warga RT 01/06 Kelurahan Cikawao menyatakan, masuk sekolah melalui jalur SKTM menjadi satu-satunya harapan. ’’Kita mah orang susah. Mudah-mudahan anak sekolah bisa merubah kehidupan kami,” imbuh Susilawati.

Sementara itu, Sutaya, 38, warga Cinambo, merasa heran dan bangga dengan perjuangan Otih. Sepengetahuan dirinya, anak Otih tidak ada yang menempuh pendidikan di sekolah negeri. ’’Pokoknya saya salut dengan Bu Otih dan Pak Achmad dalam memperjuangkan hak pendidikan warga miskin,” tukas dia

 

Sumber :

https://blog.fe-saburai.ac.id/sejarah-wali-songo/