Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan

Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan

Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan

Defenisi pendapatan sebagai produk perusahaan kelihatannya cukup jelas, tetapi beberapa usaha untuk menerangkan pendapatan atas sifat dan makna laba tidak sepakat mengenai apa yang seharusnya termasuk dalam konsep pendapatan itu

Menurut Ahmed Belkaoui pendapatan ditafsirkan sebagai:
1. Aliran masuk aktina netto yang disebabkan oleh penjualan barang atau jasa
2. Aliran keluar barang atau jasa dari perusahaan kepada para pelanggannya
3. Produk suatu perusahaan yang semata-mata disebabkan oleh penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan selama satu periode waktu tertentu.

Konsep dasar akuntansi adalah penetapan pendapatan berdasarkan akrual (Accrual basis). Dengan demikian pendapatan telah direaliasir bukan berarti jumlah uang yang diterima dengan tunai. Konsep ini melaporkan pendapatan waklu peneyelesaian kegiatan utama ekonomik.

Pendekatan transaksi memunculkan definisi yang jelas mengenai bilamana elemen laba harus diakui, atau dicatat didalam leporan keuangan. Sesuai prinsip akuntansi akrual yang sudah diterima umum, pengakuan tidak harus terjadi pada saat uang kas diterima.

Menurut Smith dan Skousen pendapatan dan keuntungan diakui apabila:
1. pendapatan keuntungan telah direalisasikan
2. pendapatan keuntungan tersebut telah dihasilkan karena sebagian besar dari proses untuk menghasilkan laba telah diselesaikan.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia pendapatan dari penjualan barang harus diakui bila seluruh kondisi berikut ini dipenuhi:
a. Perusahaan telah memindahkan resiko secara signifikan dan telah memindahkan manfaat kepemilikan barang kepada pembeli.
b. Perusahaan tidak lagi mcngelola atau melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual.
c. Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan handal
d. Dasar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan dengan transaksi akan mengalir kepada perusahaan tersebut.
e. Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan transaksi penjualan dapat diukur dengan handal.

Sedangkan menurut Prinsip Akuntansi Indonesia pengakuan pendapatan dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Pada saat penjualan Dari segi yuridis penjualan dapat dianggap diselesaikan dengan penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan kepada pembeli. Tetapi berpindahnya hak diatas merupakan persoalan teknis yang rumit, hingga untuk membukukan pendapatan sehari-hari tidak diberikan perhatian yang mendalam pada segi-segi yuridis. Pembuatan faktur dengan penyerahann fisik barangnya kepada pembeli atau kepada perusahaan pengangkutan umum barangnya yang masih harus diproduksi dan penjualan konsinyasi sebaiknya belum dianggap sebagai pendapatan. Dalam hal perusahaan pemberi jasa, penyerahan jasanya dengan pembuatan faktur biasanya menetapkan jasa untuk mengakui adanya penjualan Jika pembebanan kepada pemakai dilakukan sekali dua bulan maka pendapatan penjualan dari suatu masa dapat dilaporkan dengan menggunakan perkiraan “tagihan yang belum difakturkan”. Pendapatan lazimnya dicatat dengan jumlah setelah potongan untuk penjualan return, potongan-potongan, biaya pengangkutan dan sebagainya, tetapi penghapusan piutangnya biasanya dinyatakan sebagai beban dan bukan sebagai pengurangan langsung dari pendapatan penjualan.

Sumber : https://merkbagus.id/