Prakondisi Bagi Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Prakondisi Bagi Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Prakondisi Bagi Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Kondisi lingkungan sekitar dan kondisi sosial dalam masyarakat berkaitan dengan motivasi seseorang. Menurut Maslow kondisi-kondisi yang merupakan prasyarat bagi pemuasan kebutuhan dasar meliputi kemerdekaan untuk berbicara, kebebasan yang bertanggung jawab, kemerdekaan untuk menyelidiki, kemerdekaan untuk mempertahankan diri, keadilan, kejujuran, kewajaran dan ketertiban. Ancaman terhadap prakondisi-prakondisi tersebut akan membuat individu memberikan reaksi sama seperti reaksinya menghadapai berbagai ancaman terhadap kebutuhan dasarnya sendiri. Dalam perbaikan teorinya Maslow menambahkan tantangan (stimulasi) sebagai prakondisi tambahan dalam lingkungan eksternal, karena secara bersamaan dan paradoksikan dalam diri manusi terdapat kecenderungan bawaan ke arah kemandekan dan kearah perkembangan atau aktivitas.

HERMENEUTIKA DALAM BELAJAR

Hermeneutika berasal dari kata Inggris hermeneutics, yang bersumber pada kata kerja Yunani hermenuo, yang berarti :

  1. pengungkapan pikiran yang abstrak ke dalam ungkapan-ungkapan yang jelas, dengan kata-kata dalam bahasa.
  2. penterjemahan dari bahasa ”asing” yang ”gelap” bagi kita, ke dalam bahasa kita sendiri.
  3. penafsiran pemikiran yang kurang jelas menuju yang lebih jelas.

Hermeneutik atau penafsiran tidak bisa lepas dari manusia, karena manusia selalu memakai lambang-lambang, khususnya bahasa, sehingga penafsiran akan selalu dilakukan secara terus menerus. Manusia tidak akan dapat membebaskan diri dari kecenderungan dasarnya untuk memberi makna.

Hermeneutika merupakan penafsiran terhadap teks, namun demikian penafsiran itu sendiri sebenarnya tidak bisa hanya bersifat tekstual, melainkan juga kontekstual.

Proses pemahaman bahasa, menjelaskan bagaimana hermeneutik terjadi. Bahasa terdiri dari unit-unit kecil, suku kata, yang terbentuk dari huruf-huruf. Untuk memberi makna pada suku kata harus terbentuk kata. Kata-kata dapat dipahami maknanya dalam konteks yang lebih luas, yaitu kalimat. Kalimat dapat dipahami dalam konteksnya yang lebih luas, gaya bahasa. Sampai pada tahap pemahaman paling mendalam adalah pemahaman pribadi, baik pribadi yang lain ataupun pribadi sendiri. Pengetahuan akan pribadi yang lain tidak dapat kita peroleh dengan sikap berjarak, pribadi lain dapat dipahami dengan perhatian dan keterlibatan. Lebih dari hal tersebut, pemahaman akan pribadi lain juga terpantul kembali pada kita secara introspeksi; dengan memahaminya kita tidak hanya mengenalnya tetapi juga mengenal diri kita sendiri. Proses timbal balik inilah yang membutuhkan partisipasi dan introspeksi (Palmer, 2003).

Pengenalan pribadi lewat bahasa, lisan maupun tulisan tidak dapat melepaskan konteks yang ada, lingkungan dimana pemaknaan terjadi, lingkungan fisik, sosial, psikologis dan budaya dari ”teks” yang dimaknai, dan juga lingkungan fisik, sosial, psikologis dan budaya dari individu yang memaknai. Pemaknaan terhadap suatu teks (wacana) bisa sangat berbeda hasilnya bila dilakukan oleh individu yang berbeda, dengan konteks lingkungan pribadi yang berbeda. Sebaliknya teks yang sama namun disampaikan oleh individu yangberbeda bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda pula.

Berkaitan dengan proses belajar Agustien (2005) menyatakan bahwa pendidikan seharusnya diarahkan untuk mengembangkan perilaku berwicaksara. Perilaku berwicaksara merupakan gabungan dari kemampuan berwicara (oracy) dan beraksara (literacy). Berwicaksara berarti mampu menggunakan bahasa lisan dan tulis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berwicaksara merupakan suatu communicative competence(kompetensi komunikatif), perilaku yang dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup dalam masyarakat (Celce-Murcia et al. 1995).

Selaras dengan Model Kompetensi Komunikatif dari Celce-Murcia (1995), individu yang berwicaksara adalah individu yang memiliki discourse competence atau kemampuan berwacana, bukan sekedar mampu membuat kalimat-kalimat secara gramatikal. Dan untuk mencapai kompetensi tersebut, individu harus menguasai kompetensi kebahasaan (linguistic), kompetensi tindak bahasa (actional), kompetensi sosio-kultural (socio-culture) dan kompetensi strategi (strategic).

Berwacana, secara teknis, merupakan kemampuan menciptakan teks, sehingga perlu dipahami apa yang dimaksudkan dengan teks. Halliday (1985) mendefinisikan teks sebagai semantic unit, satuan makna yang bukan sekedar satuan grafologi yang berbentuk tulisan. Satuan makna juga bukan berarti satuan fonologi yang dapat didengar oleh telinga. Teks merupakan satuan makna dalam bahasa lisan maupun tulisan, tulisan dan bunyi yang tak bermakna, bukanlah teks.

Berkomunikasi, dengan menggunakan bahasa, adalah berpartisipasi atau terlibat dalam sebuah wacana (Halliday, 1985). Komunikasi tidak terjadi dalam kekosongan, melainkan dalam konteks situasi, konteks budaya dan wacana yang sedang menjadi sorotan (common concern). Oleh karena itu, untuk mencapai kompetensi komunikatif harus dimiliki kompetensi kebahasaan (misalnya, tata bahsa, kosa kata, bunyi dan intonasi), kompetensi tindak bahasa (misalnya, meminta/memberi informasi, mengundang dan membatalkan janji), kompetensi sosio-kultural (misalnya, kapan dan bagaimana menggunakan ungkapan tertentu), dan kompetensi strategis (misalnya, bagaimana mengatasi communication breakdown ketika berbincang-bincang).

Sumber : https://andyouandi.net/