Saat syetan memaksimalkan perannya

Saat syetan memaksimalkan perannya

Saat syetan memaksimalkan perannya

 

Ketika akad nikah terjadi, maka menjadi halal-lah

apa yang sebelumnya diharamkan. Apa yang sebelumnya merupakan maksiat dan bahkan dosa besar, sejak saat itu telah menjadi kemuliaan, kehormatan dan besar sekali pahalanya di sisi Allah. Pernikahan telah mengubah pintu-pintu dosa menjadi jalan kemuliaan dan kesempurnaan manusia dalam beragama. Allah menyempurnakan setengah agama ketika seseorang melakukan pernikahan.

Namun demikian, sebelum akad ada proses

Selama proses inilah setan berusaha memanfaatkan momentumnya untuk menggoda dan merusak, sehingga pernikahan bergeser jauh dari makna dan tujuannya. Jelas, target utama setan adalah agar setengah agama yang hendak direncanakan kedua anak manusia tersebut tidak telaksana. Target turunannya antara lain, niat suci yang bergeser, rusaknya hubungan dua keluarga, hampanya sebuah keluarga kecil setelah akad, dan mudharat-mudharat lain yang merusak dua anak manusia tersebut beserta para keluarganya.

Akad nikah menjadi momentum perubahan dimana banyak pintu-pintu

dosa yang selama ini digunakan setan untuk menyesatkan manusia ke dalam jurang kemaksiatan menjadi tertutup rapat-rapat. Dosa bersarnya adalah berzina, kecilnya adalah maksiat hati, meski tidak menutup kemungkinan juga orang yang sudah menikahpun bisa melakukan dosa tersebut, namun hal tersebut akan menjadi bahasan lain. Paling tidak, keinginan hasrat biologis yang selama membujang berakumulasi bisa menjadi tersalurkan. Pacaran yang sebelumnya diharamkan, ketika telah tecurap akad maka menjadi ibadah. Kefitrahan manusia yang ingin mencinta dan dicinta oleh lawan jenis pun mempunyai legitimasi halal.
Oleh karena itu, setan tidak akan rela dan ridho lahir bathin apabila washilah yang mereka gunakan selama ini untuk menyesatkan manusia menjadi hilang. Maka mereka dengan segenap tenaganya memainkan peranan yang maksimal agar rencana akad nikah yang akan dilakoni dua anak manusia tersebut menjadi gagal, atau setidaknya rusak. Terlebih di masa rentang waktu antara khitbah dan akad, karena masa tersebut adalah masa-masa kritis, labil, sensitif dan lemah bagi kedua insan yang akan melakukan akad nikah.
Perangkap-perangkap yang mereka gunakan pun beraneka ragam. Mulai dari munculnya kenangan-kenangan indah bersama sang mantan pacar ketika belum berhijrah dahulu yang kini hadir sebagai sosok seorang yang lebih sholeh, baik dan sempurna, hingga timbul sedikit rasa penyesalan ‘Kenapa waktu itu dia gw putusin? coba kalau dulu gw terus sama dia, aahh.. indahnya..”. Atau mungkin juga mulai hadirnya sosok-sosok lain yang pernah kita kagumi, tampil dihadapan kita seperti seorang malaikat, indah dan sempurna ingin menjalin hubungan khusus. Atau mungkin juga perangkap itu hadir lewat omongan-omongan yang kurang enak untuk didengar mengenai calon pasangan hidup kita, keributan di masing-masing keluarga, kurang ini itu, persepsi dan firasat kurang baik apabila akad tetap dilanjutkan dan perangkap-perangkap lainnya yang bisa menggagalkan proses yang suci tersebut.
Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi kita yang sedang dalam masa-masa seperti itu untuk waspada terhadap perangkap, sinyal dan strategi setan untuk menggagalkan rencana suci dua anak manusia untuk menyempurnakan setengah agamanya. Banyak memohon ampun dan mendekat kepada Allah, lebih dekat dan dekat lagi. Karena tidak ada yang bisa menjamin kita untuk tidak tergelincir dari perangkap setan tersebut.

Baca Juga :