Upaya Memanusiakan Pendidikan

Upaya Memanusiakan Pendidikan

Upaya Memanusiakan Pendidikan

SAYA kurang sreg dengan apa yang disebut sebagai kurikulum. Tidak ada insan manusia sama dan sebangun dengan insan manusia lain-lainnya, maka terasa kurang senonoh apabila manusia dipaksakan seragam satu dengan lain-lainnya.

Kurikulum adalah ciptaan manusia, sementara manusia adalah ciptaan Tuhan. Maka kurang senonoh pula apabila ciptaan Tuhan dipaksakan untuk tunduk kepada ciptaan manusia.

Namun industri pendidikan sudah terlanjur dihadirkan untuk melayani kebutuhan massal, maka produk pendidikan juga terlanjur dimassalkan dengan berbagai penyeragaman termasuk kurikulum yang bahkan dinasionalkan.

Akibat pengindustrian pendidikan, seorang siswa di pedalaman Papua diseragamkan dengan seorang siswa di Aceh. Mmeski sebenarnya saling beda kebutuhan pendidikan, akibat perbedaan lingkungan alam mau pun kebudayaan.

Tidak ada upaya memanusiakan pendidikan. Sayang, saya pribadi hanya terbatas cuma menggerutu belaka, tanpa berani mewujudkan upaya memanusiakan pendidikan menjadi kenyataan.

Salam

Syukur alhamdullilah, di Yogyakarta, ada seorang perempuan jauh lebih perkasa

ketimbang saya yang katanya lelaki ini. Sri Wahyaningsih tidak cuma menggerutu seperti saya, namun perkasa mewujudkan perlawanan terhadap industrialisasi pendidikan dengan mendirikan Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta yang praktis tidak memiliki kurikulum yang menyeragamkan pendidikan.

Salam memanusiakan pendidikan dengan mendekatkan manusia ke realita kehidupan serta lingkungan alam dan kehidupan.

Salam memerdekakan para siswanya untuk melakukan riset sebagai pembelajaran bagi diri masing-masing yang memang saling beda satu dengan lain-lainnya.

Beda

Sekolah yang didirikan Sri Wahyaningsih pada 2000

di tengah area persawahan di daerah Nitiprayan, Yogyakarta membalik tatanan pendidikan yang selama ini kita tahu. Salam beda sukma dengan sekolah yang lazim kita jumpai di segenap pelosok planet bumi masa kini.

Jika di sekolah formal, tiap semester anak-anak wajib mengikuti 8-10 mata pelajaran yang sudah ditentukan oleh Kemendikbud, di SALAM mereka memilih sendiri topik riset mereka.

Misalnya si Didi meminati jamu maka dia melakukan riset tentang jamu. Ia harus belajar juga soal jenis tanaman jamu, cara bertanam, jenis penyakit dan metode pengobatan, industri obat-obatan. Bahkan soal roda ekonomi yang bergulir di isu soal jamu.

Dari satu topik, pengetahuan meluas ke berbagai macam hal. Dengan metode

memanusiakan pendidikan, pengetahuan yang muncul adalah pengetahuan yang benar-benar dibutuhkan oleh siswa. Tak akan ada pertanyaan galau Kemarin itu susah-susah belajar fisika gunanya buat apa ya?” atau Ujian matematika disuruh ngitung ribet banget, padahal tiap hari yang kepakai gini doang?”.

Sampai sekarang saya belum menemukan manfaat saya dipaksa belajar goniometeri. Menurut Wahya, dengan riset, anak-anak memiliki pemikiran kritis dan pemikiran solusif. Karena mereka memilih sendiri topiknya, jadi tidak ada pengetahuan yang dipaksakan.

 

Baca Juga :